Me, My Children, Rantai/Jalur-Neraka Efek Domino PPDB 2016

Ngikutin kata yang lagi nge-trend “Neraka” yang digunakan sebagai istilah pada berbagai kondisi yang benar-benar “takluk” or “dahsyat”, saya gunakan pula untuk menyebutkan beberapa Efek Domino di PPDB 2016.

Kalau Saya perhatikan, ada beberapa jalur/rantai yang perlu diwaspadai oleh para pendaftar di PPDB 2017 nanti (kalo sistemnya masih menggunakan sistem RK). Data yang sama buat ini pun hanya berdasarkan TREND alur pemilihan sekolah yang terjadi di PPDB 2016.

Efek Domino Rantai untuk SMA bisa dilihat pada gambar di bawah ini :

Screen Shot 2016-07-21 at 04.26.09

Mohon Maaf gambarnya masih berantakan dan gak jelas, tapi seperti inilah rantai-rantai tersebut digambarkan..hehehehehe….

cara bacanya :

rantai neraka 1 :

SMAN 3 –> SMAN 5 –> SMAN 8 –> SMAN 12 –> SMAN 25 –> SMAN 21 –> THE END

jadi bagi pemilih di SMAN-SMAN tersebut musti waspada, karena effek dominonya cukup deras. Lemparan-lemparan dari 3 mengalir ke 5, atau 3 ke 8 dan akhirnya 8 ke 12 dan seterusnya. jalur neraka ini, sangat-sangat deras bisa jadi di dua hari terakhir lebih dari 80 siswa terlempar tiap harinya.

begitu juga rantai neraka 2 :

SMAN 3 –> SMAN 5 –> SMAN 8 –> SMAN 11 –> SMAN 7 atau SMAN 22 atau SMAN 17 –> THE END

untuk rantai-rantai lainnya dapat dibuat sendiri berdasarkan gambar.

Note :

  1. gambar jalur yang digambarkan hanyalah jalur yang benar-benar terdapat dominant lemparan. misal SMAN 22 dapat lemparan dari SMAN 8 (dibawah 20%), SMAN 11 dan SMAN 12, sebenarnya masih ada lemparan dari SMAN lain tapi presentasinya hanya 5-10% saja. Sedangkan SMAN 22 didominasi dari SMAN 11 dan SMAN 12.
  2. Jalur ini adalah jalur trend di PPDB 2016, entah jalur trend yang terjadi di PPDB 2017, semoga ini bisa jadi gambaran/masukan untuk teman-teman sekalian.

data diambil dari analisa di PPDB 2016.

🙂  🙂  🙂

Semoga berkenan.

Me, My Children, Pengalaman, Komentar, Tanggapan dan Masukan Menghadapi PPDB 2016

Screen Shot 2016-07-14 at 16.09.19

(gambar diambil dari website : ppdb.bandung.go.id)

Menghadapi tahun ajaran 2016, kedua anak saya, si bungsu dan si cikal, akan menghadapi Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB 2016). Si bungsu, Quintza (6 th 6 bulan) akan masuk SD dan si cikal, Azka (15 tahun ) akan masuk ke SMA.

Melihat hasil test Ujian Negara (UN), azka memperoleh nilai 33.80. Nilai yang cukup baik diraih oleh Azka (rata-rata = 8.45). Berdasarkan nilai hasil UN tahun ini, data yang saya peroleh untuk hasil nilai UN se-Indonesia, rata-ratanya cenderung turun. Secercah ada harapan keinginan dan cita-cita dari si cikal untuk masuk SMAN favorit di daerah bandung selatan. Tapi apa daya, cita-cita mentok dengan batasan wilayah. DW (dalam wilayah) dan GW (Gabungan Wilayah) serta LKBR (Luar Kota – Bandung Raya) dan LKLBR (Luar Kota – Luar Bandung Raya).

Saya pelajari dari tahun lalu, bahwa apa yang diterapkan oleh wali kota Bandung mengenai batas wilayah memiliki tujuan diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. mengatasi macet
  2. mengatasi kondisi fisik jasmani dan rohani anak
  3. menghilangkan citra sekolah favorit atau paling baik di Bandung (=semua sekolah negeri sama)

tapi… setelah kejadian 2 tahun terakhir ini terlihat sekali ketimpangan yang terjadi, kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

  1. rata-rata kecerdasan anak tiap wilayah berbeda-beda. (terlihat 2 tahun terakhir ini rayon G, H mendomisili perolehan nilai PG (Passing Grade) UN cukup tinggi.
  2. ketika di rayon-rayon domisili tempat tinggal daerah tengah kota Bandung ke atas. Banyak sekali kuota DW yang masih kosong saat ditutupnya pendaftaran.
  3. ketika terjadi kuota-kuota RMP (Rentan Melanjutkan Pendidikan) dan LKBR, serta LKLBR tidak terpenuhi.
  4. Pembagian sekolah yang tidak merata dengan populasi anak sekolah.
  5. Siswa-siswa domisili Kabupaten yang mengejar asa dan cita-cita bersekolah di kotamadya Bandung.
  6. Tidak diseimbangkan pengembangan pelajaran dan pembelajaran antara sekolah di Kabupaten Bandung dan Kodya Bandung.
  7. pembagian wilayah pun tidak dipertimbangkan rute-rute angkot. Terkadang sekolah yang wilayahnya dekat harus 2x naik angkot dibanding dengan sekolah yang letaknya sedikit lebih jauh (terpaut 1-2km) yang hanya dilewati angkot 1x saja.
  8. ketika prediksi-prediksi yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga pendidikan hampir 90 persen meleset. Prediksi di blognya Dudy Arisandy benar-benar keren, padahal sudah dianalisa dengan sangat baik, hanya saja tetap meleset juga.
  9. Ketika banyak siswa yang mengeluh kepada orang tuanya, kenapa punya rumah di “pinggiran” kota –> sesuatu komentar yang tidak perlu diungkapkan oleh seorang anak, tapi apa daya, kondisi aturan PERWAL  (Peraturan Walikota) yang menyatakan demikian. Jangan menyalahkan anak, karena komentar-komentar ini adalah komentar manusiawi.
  10. Ketika banyak yang membuat KK baru secara mendadak (1-3 bulan) sebelum PPDB dimulai, dengan mengantongi surat keterangan dari kecamatan, dan surat-surat lainnya yang mendukung, agar bisa masuk PG DW. Walau di Perwal tertulis minimal 1 tahun, tapi tetap saja yang kurang dari 1 tahun bisa menduduki posisi DW.
  11. ketika banyak sekolah2 yang tidak langsung ONLINE memasukkan atau mengupdate pendaftar di hari yang sama. (untuk hal ini, saya merasa aneh dan tidak habis pikir, masa sekolah semaju dan sefavorit SMAN 5, SMAN 2, SMAN 3 bisa-bisanya tidak mengupload secara real time data pendaftar2 yang telah mendaftar di hari yang sesuai dengan tanggal pendaftaran). –> seharusnya sekolah-sekolah yang seperti ini diberikan sangsi. (menurut saya ya)

Akhirnya, kalo kita review lagi tujuan utama dari pembatasan wilayah :

  • mengatasi macet

Sepertinya tidak teratasi, Bandung yang memang cuma sekian ini luasnya, akan dibagi-bagi per wilayah, sementara label “Sekolah Favorit” masih tercetak kuat di kepala orang tua siswa (seperti saya) yang anak-anaknya akan bersekolah. Terbukti, masih banyak siswa-siswa dari wilayah G dan H yang masih memilih Sekolah-sekolah favorit toh dari wilayah G/H ke SMAN3 dan 5 cukup dengan naik angkot contoh : gedebage-statsiun (1xsaja). contoh lain : Siswa yang berdomisili di perumahan adipura ciwastra sebetulnya lebih dekat ke lokasi SMAN 25 dan SMAN 27, tetapi malah satu wilayah dengan SMAN 24. Terlihat pada gambar di bawah, jarak SMAN 25 dan SMAN 24 untuk Wilayah H.

Screen Shot 2016-07-15 at 05.29.20 Screen Shot 2016-07-15 at 05.28.18

Kemudian, dengan hampir 6500 siswa yang tidak diterima di sekolah negeri, sebagian diantaranya terdapat di wilayah G (SMAN 12, SMAN 16, SMAN 21, SMAN 25  maka –> nilai PG DW= 277 paling rendah di sekolah wilayah G) sehingga siswa yang dibawah UN 277 (rata-rata 7 kurang dikit) di wilayah G juga pada akhirnya akan memilih sekolah-sekolah swasta yang letaknya di pusat-pusat kota tanpa mengindahkan DW atau GW. Ya pada prinsipnya kalo sudah masuk swasta pasti pilih sekalian yang bagus toh?? kan bayarnya mahal. Selain itu juga, pergaulan lingkungan sekolah, lulusan, jalur undangan,  juga menjadi parameter yang mempengaruhi orang tua untuk memilih sekolah.

  • Mengatasi Fisik Jasmani dan Rohani anak

Untuk tujuan yang kedua ini, saya setuju, fisik anak sedikit terkuras bila terkena macet di beberapa titik saat akan berangkat atau pulang dari sekolah. Tapi biasanya, anak-anak yang memilih sekolah yang cukup jauh sudah paham dan sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi hal tersebut 3 tahun ke depan.

  • menghilangkan citra sekolah favorit atau paling baik di Bandung (semua sekolah negeri sama)

Menghilangkan citra sekolah favorit atau sekolah paling baik di Bandung di kepala/pandangan masyarakat tidaklah mudah. Untuk beberapa tahun ke depan pasti akan terlihat sman 3, sman 5, sman 8, sman 2 masih akan menjadi HIGHLIGHT cita-cita dan asa para siswa dan orang tua.

Memang dengan munculnya pembagian wilayah, muncul sekolah-sekolah SMA unggulan wilayah, seperti :

  1. Wilayah A : SMAN 2 dan SMAN 1 tetap mendominasi
  2. Wilayah B : SMAN 20 dari dulu sudah mendominasi,  SMAN 10 mulai muncul mendominasi
  3. Wilayah C : SMAN 7 muncul mendominasi GW karena para ortu secara sadar diri bahwa nilai UN mereka sepertinya tidak akan masuk ke PG DW SMAN 3 dan SMAN 5, sebagai SMAN favorit di Bandung
  4. Wilayah D : SMAN 8 tetap menjadi favorit hanya saja semakin menjadi-jadi karena diserbu pendaftar dari wilayah G dan H. SMAN 11 dan 22 otomatis menjadi naik PG nya karena “pindahan” dari SMAN 8.
  5. Wilayah E : SMAN 4 melesat menjauhi 3 SMAN lainnya, menjadi favorit di wilayahnya.
  6. Wilayah F : tersebar merata antara SMAN 13, 9 dan 6
  7. WIlayah G : SMAN 12 melesat mendekati passing grade SMAN 8 di posisi DW, karena mendapat pula “Pindahan” dari SMAN 8 dan SMAN 5. (coba cek deh, data siswa yang menjadi siswa di SMAN 12, rata-rata berkode pendaftar 8, 5 dan 12. (hampir 90%).
  8. Wilayah H : SMAN 24 melesat mendekati passing grade SMAN 8 di Posisi DW, yang juga didominasi dari “pindahan SMAN 5 dan SMAN 8.

Berdasarkan hal tersebut diatas, tetap saja pada akhirnya…. Nilai UN adalah segalanya, bukanlah jarak. Bahkan rangking posisi anak yang bernilai UN sama pun terurut lebih kepada nilai Bahasa Indonesia-nya yang besar kemudian nilai matematikanya. Bila semua sama barulah definisi jarak menentukan.

Tak dapat dipungkiri efek pemetaan wilayah maka SMAN Favorit baru akan muncul menjadi highlight di setiap pikiran orang tua dan anak-anak, mengapa????? karena pada saat awal mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian UN, mereka memiliki target untuk masuk ke sekolah yang mereka cita-citakan.

Note :

Saya sempet kecewa juga begitu ada klarifikasi dari bapak WaliKota, dengan kalimat yang bunyinya menyerupai “kalo tidak keterima di negeri ya anak dan orang tua harus ikhlas” kebetulan putrinya sendiri tidak diterima di negeri dan ikhlas sekolah di swasta.

tanggapan saya :

yaaaa..pak… kalo masyarakat punya uang kayak Bapak, pastinya mereka juga akan ikhlas pilih sekolah swasta yang bagus dan mengeluarkan biaya yang tidak murah. tapi… mbok ya dipikir juga, banyak sekolah swasta yang bagus yang sudah tutup, kalopun bisa ya menempati posisi waiting list, menunggu yang mengundurkan diri. (Bukan berarti sekolah swasta itu jelek ya, karena parameter untuk memilih sekolah itu tentunya banyak, bisa dari posisi, lulusan, jalur undangan, pergaulan dlsbgnya)

Selain itu, mereka yang tidak keterima di negeri tuh bukan anak-anak yang nilai UNnya kecil. Seperti teman anak saya yang nilainya 26,7 karena di wilayah G maka dia tidak diterima di SMA negeri di wilayah G. nilai UN 26,7 itu rata-rata 7 kurang dikit,

Sedangkan di Wilayah C, siswa-siswa dengan nilai UN dibawah 20 bisa masuk ke SMAN 3 dan SMAN 5. Kalo kita lihat dari sisi kesempatan belajar di negeri, tentunya nilai yang lebih baik itu seharusnya lebih menempati posisi sekolah di SMAN negeri, Adilkah???. (mohon maaf bukan mengecilkan, tp lebih pada kesempatan belajar di sekolah negeri).

Untuk hal ADIL ini, Bapak Walikota, berkomentar menyerupai “bahwa setiap sekolah negeri ada hak-hak siswa yang bisa masuk dengan jalur yang dikategorikan UU Guru, RMP, Prestasi, KSP Aset, Inklusi.” Untuk hal ini saya pribadi sudah setuju, hanya saja mohon dilihat lagi prosentase kuotanya. Satu yang perlu dijelaskan mengenai KSP Aset, rata-rata di setiap sekolah tidak terpakai, lebih baik kalo memang tidak ada pihak yang dilibatkan untuk aset kepemilikan saham, tanah, laboratorium dlsbg lebih baik di NOL kan saja, tapi misal untuk sekolah yang menggunakan tanah TNI, AU, dlsbg, monggo boleh diberi prosentase.

Tapi, asa teu nyambung kata ADIL yang dijelaskan bapak. Kalo kata ADIL menurut saya adalah, siswa-siswa ini, bertarung memperebutkan kursi di JALUR AKADEMIK loh paaaaak… otomatis… NILAI adalah SEGALANYA, bukan WILAYAH kalo WILAYAH mah jadinya (posisi menentukan prestasi).  🙂 🙂

Kalo memang Bapak mau memberlakukan perwilayahan, monggo aja pak. da bapak mah Walikota, ari saya mah apa atuh… hehehehe… cuma punten, tolong dipertimbangkan lagi masukan dari saya, di akhir cerita sasadu saya di blog ini. 🙂 🙂 🙂

Mohon maaf ya pak, kalo Bapak sempet baca tulisan saya, dan bapak tersinggung, ini hanya tulisan kecil hati nurani dari kacamata saya ketika saya menjalani perasaan naik roller coaster saat menanti hasil akhir PPDB 2016, dengan harapan anak-anak saya diterima di sekolah yang anak-anak saya tuju.

Terakhir saya ingin memberi masukan :

  1. Website ppdb.bandung.go.id sudah baik, hanya saja mohon diperjelas jumlah pendaftar per setiap harinya, per sekolah, untuk mengantisipasi bila ada kecurangan atau ketidaksamaan data.
  2. Kalau bisa ada counter pengurang berdasarkan nilai UN, sehingga misal bila data NUN 36.00 ada 300 orang, hari selanjutnya tinggal 200 orang, karena yang 100 orang sudah mendaftar. Hal ini ditujukan agar para orang tua siswa bisa memprediksi lebih baik.
  3. beri sangsi pada sekolah-sekolah yang menunda upload data, dan bila ada masalah pada jaringan, umumkan secara langsung di PPDB, toh… tinggal tulis “mohon maaf pendaftar di SMAN Y belum dapat diupload dikarenakan terdapat gangguan jaringan”
  4. beri keputusan pemindahan kuota DW dan GW, di pagi hari di hari terakhir (Kamis, 30 Juni 2016 sekitar pukul 9-10 pagi) pendaftaran seperti yang dilakukan oleh SMAN 8 dan SMAN 12. –> saya acung jempol pada kedua sekolah ini yang sangat cepat memberi informasi penambahan dan pengurangan kuota
  5. Pendaftaran seharusnya benar-benar di STOP jam 14.00 beri waktu sampai jam 17.00 untuk upload data dan kemudian umumkan hasilnya, jadi jangan ditunda sampai 4 hari. Karena menunggu itu rasanya seperti digantung ketidakpastian. Selain itu, bisa menimbulkan hal-hal kecurangan yang tidak diinginkan. Pastikan pula jika ada pengurangan ROMBEL (Rombongan Belajar) seperti di SMAN 3 atau SMAN 5 karena kuota tidak terpenuhi. Tolong pahami perasaan ortu dan siswa saat menunggu, ppdb di Jakarta dan di Bogor sdh mengumumkan final 1 jam setelah tutup. Masa Bandung pake harus nunggu 4 hari. Sudah nunggu, mau lebaran pula, dan sedang berpuasa….mau berpikir masak atau mudik pun tidak bisa. 🙂
  6. berikan pengumuman yang tidak meresahkan para pengikut PPDB, sehingga bisa memberikan ketenangan batin.
  7. pembagian wilayah perlu didukung dengan sebaran data kependudukan yang valid dan rute angkot serta bus sekolah.
  8. Sebaiknya sekolah-sekolah baik di kabupaten dan kotamadya dikembangkan sama rata terlebih dahulu baru memberlakukan perwilayahan, Misal dari jalur undangan perguruan tinggi negeri, pukul rata semua sama, jangan sma-sma unggulan diberi kuota lebih banyak,,…. nahlo… ribet kan ya, krn salah satu ketertarikan magnet SMAN 8 itu jumlah jalur undangannya no 2 terbanyak di Bandung setelah SMAN 3. —–> utk hal ini, gak salah dong orang tua berharap banyak dan menempatkan asa di kedua SMA tersebut?

Yah,…. memang repot untuk mendapatkan hal yang ideal,….

Alhamdulillah, anak-anakku diterima di SD dan SMA yang dituju.

Selain itu, aku berharap,… siswa2 dan orang tua yang “menjadi korban” ketidak siapan sistem ini memiliki hati seluas samudra dan ikhlas sedalam lautan yang dapat membuat semua menjadi dewasa dan berjuang untuk masa 3 tahun yad ke jenjang yang lebih tinggi.

 

Semoga bisa bermanfaat tulisannya.

Semoga PPDB 2017 lebih baik adanya…. Aamiin

Mohon Maaf bila ada perkataan tidak berkenan.

🙂   🙂    🙂

 

 

 

Me, My children, Usaha melawan DB dengue

Pada saat saya menulis ini, sedang bulan ramadhan hari ke 16 dan sedang berada di rumah sakit sambil menjadi suster dan baby sister anak-anak yang sedang terbaring demam akibat gigitan nyamuk aedes aegepty, dengan tusukan infusan di lengannya.

Mendapati hasil test lab kedua anakku positif Dengue NS-1, karuan lah rasa hati ini panik. Astaghfirullah… dua-duanya positif. Teringat masa saat adik bungsuku masuk RS karena DBD skitar 8 tahun yll, sampe ke ICU karena penurunan trombosit drastis.

Seketika saat itu, aku coba untuk tenang dan memilih rujukan RS. Santosa kebon jati. Panas yang sedang mendera kedua anakku saat itu ada di skitar 39-41 derajat.  Kami mencoba booking kamar via Telepon, dan meminta bookingan kamar kelas 1 untuk dua anak yang minta diseruangkan. Alhamdulillah respon dari RS rujukan kami terima pukul 9.30 malam yang mengatakan ada ruangan kelas 1 dan sekamar. Kami pun menuju ke RS skitar pukul 05.00 setelah sahur dan shalat shubuh.

Penanganan yang dilakukan di IGD RS rujukan sangat baik dan cukup cepat, terhitung masuk di pukul 05.45, kedua anakku sdh menerima penanganan yang cukup cepat, dengan melakukan cek darah lab dan pasang infus serta pemberian obat sanmol cair melalui infusan. Skitar pukul 8 pagi anak-anak sdh menempati ruangan 736 kamar anak di safir barat.

Screen Shot 2016-06-21 at 08.29.10

Menurut Dokter Suzy Irawati., SpA. Siklus demam dan penurunan trombosit terjadi sampai dengan 7 hari. Pada saat masuk ke RS, demam Veyzha masuk RS hari ke 4 dan kakaknya Azka baru menjelang hari keempat. Trombosit veyzha pertama kali diidentifikasi DBD 124000 dan kakaknya 127000, dan pada pagi hari saat masuk ke IGD trombosit Veyzha dan Azka sama-sama menurun drastis di 76000. Demam di hari ke 4 dan 5 sedang tinggi-tingginya dan di hari ke 5 trombosit kembali turun, Veyzha di 43000 sedangkan azka di 30000. Drastisnya turun trombosit dikarenakan azka saat itu sulit sekali minum dan makan. Hari ke-6 trombosit azka semakin drastis dan masuk ke titik terendah di 14000 sedangkan veyzha turun terendah ke titik 35000.

Alhamdulillah titik terendah trombosit anak-anak tidak sampai menyentuh di level kurang dari 10rb. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuh anak-anak yang cukup baik untuk melawan serangan demam virus DBD.

Beberapa hal yang bisa saya share dari penyakit ini adalah :

—- Tanda-tanda —-

  1. terjadi demam tinggi diatas 38,5 – 41 dan tidak turun-turun walaupun sudah minum obat yang mengandung ibuprofen dan parasetamol.
  2. napsu makan berkurang
  3. bila sdh terjadi penyerangan virus DBD, maka akan timbul bintik-bintik dan kulit anak terlihat seperti membiru (agak geundeuk kalo istilah sundanya mah hehehe…)
  4. sakit pada ulu hati dan kembung adalah ciri trombosit sudah turun.
  5. kembung
  6. tekanan darah menurun
  7. muntah-muntah

 

—- Usaha-usaha yang dilakukan — 

Usaha yang dilakukan untuk menurunkan panas/demam

  1. memberikan obat demam yang mengandung ibuprofen dan paracetamol
  2. mengompres dengan air hangat di kepala dan ketiak anak
  3. memberikan minum sebanyak mungkin
  4. menghitung jumlah ml air seni yang dikeluarkan oleh anak. Jaga di 500 ml.

Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah trombosit naik atau mencegah trombosit turun drastis mencapai nilai terendahnya

  1. minum sebanyak mungkin –> supaya darah tidak mengental (hematokrit)
  2. makan sebanyak mungkin
  3. mengkonsumsi jus jambu biji
  4. mengkonsumsi jus kurma (saya pake merk Tamr –> karena kualitasnya bagus dan kental)
  5. mengkonsumsi teh angkak
  6. mengkonsumsi ejiao
  7. mengkonsumsi vitamin

Anak-anak tidak mengkonsumsi daun rebusan ubi jalar seperti usulan beberapa teman, karena agak sulit mendapatkannya.

Usaha yang dilakukan untuk menghilangkan kembung dan muntah

  1. mengkonsumsi obat anti muntah sebelum makan
  2. menjaga ritme makan

Hal yang cukup membuat saya sedikit menderita adalah melihat infusan anak-anak yang bengkak akibat pembuluh darahnya tidak cukup kuat untuk menampung derasnya aliran infusan yang masuk melalui pembuluh darah, sehingga, anak-anak terpaksa harus melalui 3x ganti saluran pembuluh untuk memasukkan cairan infusan.

Screen Shot 2016-06-21 at 09.17.16 Screen Shot 2016-06-21 at 09.28.02

satu lagi yang harus diperhatikan, anak kita sering diambil darah untuk dicek trombositnya, sehari bisa sampai 2x, sehingga azka dan veyzha terpaksa harus melalui pengambilan darah di lengan dan di jari tangan. total pengambilan darah yang sudah dilakukan sampai hari ini untuk masing-masing anak adalah 8x untuk masing-masing anak. (kasian kaaaan hiks..hiks). hasilnya jadi kayak gini.

Screen Shot 2016-06-21 at 09.28.34

Ah… tapi apapun itu…saya sangat berterimakasih pada anak-anak, mau berjuang melawan virus DBD, walaupun disela-selakan oleh isak dan tangis. but… it’s still TWO THUMB UP buat anak-anakku yang tabah dan sabar.

terakhir sharing dari saya :

  1. jaga trombosit jangan terlalu rendah (paling minimal di 15 rb tp itu harus kondisi anak bagus daya tahan tubuhnya, kalo bisa ya titik terendah di 30rb)
  2. jaga kekentalan darah (hematokrit) di max 43, karena ada yang 45 dan 47 batas kekentalan darah. kalo sampai darah mengental maka anak akan diperbesar volume cairan yang dimasukkan dan itu dapat berpotensi mengalami rapuh pembuluh darah.
  3. jaga jangan sampai terjadi pendarahan, karena bila sampai terjadi maka harus melakukan transfusi darah.
  4. perhatikan siklus pelana kuda, dimana saat-saat virus sedang menyerang dan sedang tenang, jangan sampai terkecoh dengan turunnya demam sang anak.
  5. dukungan dari orang tua itu nomor 1, dampingi selalu pada saat disuntik, diambil darah, dan dipasang infusan. 🙂

begitulah teman-teman sharing yang dapat aku bagi, semoga berkenan dan dapat membantu.

🙂   🙂  🙂

 

Parenting, Bagaimana menanamkan Pelajaran Moral, Etika, dan Agama yang menghilang di Generasi Z

Sebagai seorang ibu yang juga berprofesi sebagai seorang dosen, mulai merasa jengkel dengan tingkah laku berbagai mahasiswa/i yang saya ajar. Salah satunya adalah moral dan etika. Generasi jaman sekarang kalau saya nilai merupakan generasi Z (kelahiran tahun 1995 – 2010) yang katanya generasi era jaman digital yang fasih terhadap teknologi, tidak dapat lepas dari internet, multitasking, tapi juga merupakan generasi yang kehilangan penanaman nilai cinta/bela tanah air, cengeng tidak tahan banting, kurang beretika terhadap orang yang lebih tua, teman sebaya serta kepada yang lebih muda, serta kekuatan dasar keagamaan setiap personal berdasarkan agama yang dianut.

Ketiga anak-anakku lahir di era tahun 2001 – 2010, ketiganya termasuk pada generasi Z. Azka kelahiran tahun 2001, Veyzha kelahiran tahun 2006, dan Quintza kelahiran tahun 2009. Kalau dilihat dari ketiga anakku ada unsur Z didalamnya, itu bukan krn mereka lahir di era generasi Z, tapi karena nama ayahnya mengandung unsur huruf Z hehehehe…

Screen Shot 2016-06-07 at 11.56.33

Melihat kondisi yang terjadi di jaman sekarang ini, dalam hati merasa sedih, karena teringat masa kecil aku sekolah dasar di era tahun 80-an, dimana pendidikan moral diimplementasikan kepada anak sekolah berupa : penataran P4 pola 45 jam, 60 jam sampai pola 100 jam, upacara bendera setiap hari besar negara,  pendidikan etika dan beragama diimplementasikan berupa : buku sholat, buku puasa dan ceramah ramadhan,  serta berbagai macam hukuman yang diimplementasikan berdasarkan punish and reward di sekolah seperti : dijemur di lapangan, jalan kodok keliling lapangan, rambut dipotong sebelah kalau kepanjangan (untuk cowok), rok digunting kalau kependekan. serta berbagai macam bentuk hukuman lainnya.

Dan dari pendidikan semacam itulah, secara tidak langsung, ketangguhan, pendidikan moral, etika kepada guru ditanamkan pada anak-anak di generasi sekolah tahun 80-90an. hayoooh yang merasa sekolah di tahun 80-90 an ,,,…ngakuuuu kalo hukuman-hukuman itu berarti banget buat kita-kita saat itu…heheheehhe…

Menghadapi kondisi seperti ini, aku memiliki tantangan sendiri bagaimana menanamkan pelajaran moral, etika, dan agama sendiri kepada anak-anakku (yang termasuk tipe Gen Z), karena kesiapan, ketangguhan, akhlak, anak-anak kita untuk terbang ke dunia persilatan tetap berada di tangan kita sebagai orang tuanya loooh….. admit it 🙂  🙂

saya jadi ingat dengan tulisan dari parenting Dono Baswardono bahwa :

Screen Shot 2016-06-07 at 10.36.09

Nah, berdasarkan ini pula, saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa saya dan suami selaku orang tua dari 3 orang anak kami, WAJIB memberikan segala pengenalan, pengajaran, sampai dengan pengimplementasian segala pengajaran kita oleh anak-anak kita di masyarakat.

Beberapa macam cara yang saya pernah coba untuk menanamkan semua hal-hal yang hilang diatas kepada anak-anak adalah :

Mengajarkan bagaimana berlaku sopan dan norma yang berlaku di masyarakat seperti : 

  1. mengantri dengan patuh dan rapi saat akan mengantri makan, mengantri bermain, dan lain-lain.
  2. beretika baik saat berkunjung ke rumah saudara atau saat bermain ke rumah teman, misalnya: mengucapkan salam pada saat masuk ke rumah teman, berpamitan saat pulang, dan membereskan mainan yang digunakan saat bermain di rumah teman.
  3. menghormati orang yang lebih tua, bila mengenal berikan salam dan cium tangan.
  4. kepada teman sebaya berbicara dengan bahasa yang baik, tidak boleh mengeluarkan kata kasar. Anak-anak aku Alhamdulillahnya sampai saat ini tidak terpengaruh dengan kata-kata kasar yang terkadang mereka dengar dari teman atau lingkungan sekitar. Terkadang mereka menanyakan apa maksud dari kata tersebut, dan saya biasanya menjelaskan artinya dan bilang kepada anak-anak kalau itu adalah kata/kalimat yang tidak baik. Penting untuk mereka tahu kata tersebut, tidak menggunakannya dan bertindak bila ada yang menggunakan kata-kata tersebut kepada anak-anak.
  5. sering bercerita tentang bagaimana Indonesia merdeka, cerita tentang kepahlawanan, seperti nonton piala thomas, dan bagaimana mengharumkan nama Indonesia dari berbagai hal
  6. menjadikan anak sebagai teman, biasanya setiap habis anak-anak selesai berkegiatan dan berinteraksi di sekolah atau ditempat lingkungan sambil ngobrol-ngobrol santai saya selalu bertanya apa saja yang mereka lalui hari itu, dan dari situ banyak sekali obrolan-obrolan yang berkembang.
  7. Patuh kepada guru di sekolah
  8. mengajarkan bagaimana adab yang baik untuk berkomunikasi melalui media sosial atau handphone terhadap guru, teman sebaya, keluarga dlsb.
  9. tidak mengajari mengendarai motor sebelum umurnya, tidak memperbolehkan bermedia sosial fb,twitter  dlsb sebelum waktunya kepada anak. Anak paling besar berumur 15 dan hanya punya Line dan instagram aja. Ingin belajar motor, saya suruh dulu masuk dan keluarin motor ke garasi dengan tujuan mengenali berat motor dan dimensi motor (hihihi… )
  10. Adab dan tata cara memasuki masjid. Sholat di masjid, tidak berbuat ribut di masjid.
  11. mengajarkan bagaimana berpendapat dan mengeluarkan pendapat, serta menghormati pendapat yang berbeda.

Screen Shot 2016-06-08 at 06.02.01      Screen Shot 2016-06-08 at 07.12.28

Screen Shot 2016-06-07 at 13.25.10Screen Shot 2016-06-07 at 13.22.34

 

Mengajarkan Hak dan Kewajiban serta tanggung jawab juga punishment and reward, seperti :

  1. mengerjakan Pe-er, adalah kewajiban, dan apa konsekuensinya bila tidak dikerjakan.
  2. membenahi mainan, kamar sendiri, bekas makan sendiri dan lain-lain, dan apa konsekuensinya bila tidak dikerjakan
  3. menyiapkan perlengkapan sekolah berdasarkan jadwal pelajaran yang berlaku, apa konsekuensinya bila ada yang ketinggalan
  4. memberikan reward bila anak mengerjakan semua dengan baik sebagai hak anak karena telah berlaku baik

Hal-hal tersebut saya sampaikan berulang-ulang, dalam keadaan santai, sehingga anak mudah mencerna maksud dari pengajaran yang saya sampaikan. Saya berharap bisa menanamkan sifat gigih dan tidak menyerah serta menjunjung tinggi nilai akhlak dan agama dalam bersikap.

Alhamdulillah, berikut testimoni mengenai tingkah laku anak-anakku (mohon maaf bukan untuk menyombongkan ya 🙂  )

  1. Saat dibawa berlibur dengan grup neneknya ke malaysia dan singapore, mereka semua memuji akhlak anak-anak yang tangguh dan sopan serta tahu bagaimana bersikap di negeri orang lain dan kepada orang yang lebih tua
  2. saat ke mesjid untuk melaksanakan sholat jumat atau sholat wajib lima waktu berjamaah di mesjid, marbot mesjid menyampaikan bahwa anakku sangat tahu adab masuk ke mesjid, sholat mengikuti shafnya dan tidak berlari-lari sebagai mana mestinya anak sebayanya. Untuk hal ini saya sangat bahagia karena saya hanya sering menyampaikan kepada veyzha keagungan rumah Allah dan bagaimana bersikap seperti seorang teman, bukan menggurui.
  3. saat diminta belanja ke tukang sayur, ibu-ibu yang belanja memuji anak sebagai anak yang patuh pada orang tua dan sopan karena menyapa ibu-ibu tetangga yang juga ikut belanja.
  4. di kumon, tempat lesnya, memuji kalo anak-anak tahan banting dalam mengerjakan tugas yang diberikan gurunya
  5. di purwacaraka, tempat anak-anak les nyanyi, guru-gurunya memuji keceriaan anak-anak dan semangatnya pada setiap pentas musik dilaksanakan.
  6. di sekolahnya, anak-anak termasuk anak yang berprestasi, patuh dan sopan terhadap guru serta berani mengungkapkan pendapat
  7. di madrasahnya, termasuk anak cerdas, sudah bisa berdakwah dan dicoba untuk bisa hafidz Al-Quran.
  8. pada saat outbond tidak cengeng dan menikmati rintangan-rintangan

Screen Shot 2016-06-08 at 05.37.15                         Screen Shot 2016-06-07 at 13.22.58

Screen Shot 2016-06-08 at 05.38.13 Screen Shot 2016-06-08 at 05.38.47

Screen Shot 2016-06-08 at 06.04.23                Screen Shot 2016-06-08 at 06.05.47

Screen Shot 2016-06-08 at 05.39.53Kalau dilihat-lihat lagi, sepertinya akan terlihat betapa rese dan ribet ya metoda yang aku ajarin ke anak-anak, tapi, sekali lagi… it’s work. yeaaah!!!

Ketiga anak-anakku memahami, “semakin dewasa kita, akan semakin banyak masalah yang kita hadapi dan kita lalui, dengan begitu akan semakin banyak pengalaman kita. Hal tersebut yang akan membuat kita semakin tangguh menghadapi dunia.” Alhamdulillah anak-anak sampai saat ini bisa dibilang siap menghadapi medan perang di usianya hehehe…”

Begitulah temen-temen cerita dan sharing aku tentang bagaimana aku menanamkan pengajaran yang telah hilang di masa anak-anak aku belajar di sekolah. Untuk menambal kehilangan tersebut, yuk kita coba dari semenjak dini agar anak-anak kita amanah, berakhlak, dan siap kita lepas untuk terbang menghadapi dunia pada saat nya nanti dan semoga ajaran kita bisa terus dibawa sampai mereka dewasa dan tua nanti. Aamiin.

 

🙂   🙂  🙂

 

 

Parenting, Me, My children and Their First Fasting

Sebagai ibu dari ketiga anak, juga sebagai seorang muslim, adalah kewajiban untuk memberikan pengenalan, pengajaran, pemahaman, penanaman, dan pengimplementasian nilai-nilai yang diajarkan agama kepada anak-anaknya. Salah satu Rukun Islam adalah Berpuasa, dan wajib dilakukan oleh seorang muslim.

Salah satu kebingungan pertama bagi seorang ibu adalah :

“kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan puasa kepada anak?”

Kalo menurut feeling aku sebagai seorang ibu adalah, sebaiknya sedini mungkin. Tapi, sedini mungkin itu umur berapa tepatnya? saya tidak bisa menjawabnya dengan tegas berapa tepatnya. saya hanya bisa bercerita tentang pengalaman yang aku lakukan pada ketiga anak-anakku.

Pengalaman yang aku pernah lakukan pada ketiga anakku adalah :

  1. Azka, pertama kali berpuasa pada umur 5 tahun, berpuasa langsung tamat 1 hari tapi hari-hari berikutnya saya tidak tega melanjutkan, karena pada saat itu saya sedang hamil veyzha dan saya pada saat itu tidak kuat berpuasa. Tapi azka pada saat itu dapat tamat 6 hari berpuasa. Kemudian pada saat berumur 6 tahun, azka langsung berpuasa penuh dari hari pertama sampai hari terakhir di bulan ramadhan. Alhamdulillah tidak menemukan kerewelan anak di tengah-tengah ramadhan.
  2. Veyzha, pertama kali berpuasa pada umur 4,5 tahun, sampai jam 12 siang. Keesokan harinya sudah berpuasa penuh 1 hari. Tapi saya biarkan veyzha berpuasa “belang-bentong” mengingat fisik veyzha saat itu sedang kurus-kurusnya, pada umur 4.5 tahun ini veyzha berhasil berpuasa hampir 10 hari ramadhan. Pada tahun berikutnya, veyzha pun langsung tamat berpuasa sebulan penuh di umur kelima nya.
  3. Quintza, pertama kali puasa pada umur 5 tahun, langsung tamat 1 bulan penuh ramadhan. Alhamdulillah, quintza bisa seperti ini karena kakak-kakaknya jadi motivasi terbaik untuk quintza menjalani puasa.

Jadi Alhamdulillah anak-anak sdh berpuasa di usia yang cukup dini yaitu 5 tahun.

Kebingungan kedua :

“Bagaimana memberikan informasi, seperti mengenalkan dan mengajarkan puasa sebelum mengimplementasikan puasa kepada anak”

Kalau saya biasanya beberapa hari sebelum puasa, saya melakukan pemberian informasi mengenai puasa kepada anak, berulang-ulang setiap hari sampai akhirnya h-1 puasa. Saya ceritakan puasa itu apa, tujuannya apa, sambil bernyanyi lagu tentang berpuasa yang telah mereka pelajari di sekolah TK A saat itu, semua saya ceritakan sambil bercanda dan santai dengan anak-anak.

Liriknya :

apa arti puasa? puasa tidak lapar, puasa tidak minum, dari shubuh sampe maghrib

dan banyak lagi deh lagu-lagu puasa yang dipelajari di sekolah 🙂

Pada H-1 saya katakan pada anak-anak mengenai sholat tarawih dan siap-siap mental untuk puasa esok harinya. Sebelum tidur saya berdoa, Bismillahirohmanirrohim ya Allah, semoga besok anak-anak kuat menjalankan puasa. Aku berserah padamu,Ya Allah. 🙂    🙂   🙂

Kebingungan ketiga :

“Bagaimana Tips n Tricknya supaya anak tahan berpuasa sampai dengan maghrib”

Untuk menjawab kebingungan ketiga ini, saya coba memberikan informasi berdasarkan pengalaman yang pernah saya coba implementasikan pada anak-anak.

  1. Tanya kepada anak, mau makan apa saat sahur, kemudian dimasakkan.
  2. Membangunkan anak-anak untuk Bangun sahur 30 menit sebelum imsyak. Alhamdulillah selama ini belum pernah sulit membangunkan, mereka biasanya bersemangat. 🙂  🙂
  3. begitu terbangun, biasakan anak-anak mencuci muka dengan air hangat dan minum segelas air putih. langsung “cenghar” deh mereka… hehehe
  4. begitu matanya terbuka lebar, mereka biasanya langsung lihat hidangan di meja dan langsung semangat makan. Urutan mereka makan saat sahur (kadang tidak selalu terurut) adalah minum air putih, makan sereal plus susu, makan nasi, makan buah-buahan, makan cemilan yang ingin mereka makan, trus mereka minum vitamin daya tahan tubuh dan terakhir diakhiri dengan banyak minum air putih sampai imsak.
  5. setelah sholat shubuh biasanya mereka tidur lagi.
  6. Biasanya hari-hari pertama, sekolah libur untuk adaptasi lingkungan berpuasa, jadi saya biarkan anak-anak tidur dan bangun, tp karena biasa bangun pagi hari, jam 7-8 pun mereka sudah terbangun.
  7. mandi pagi, dan biarkan mereka melakukan aktifitas seperti biasanya.
  8. kata-kata lapar biasanya muncul menjelang jam makan siang, nah pada saat itu, ajaklah anak-anak melakukan kegiatan yang bisa mengalihkan perhatian pada rasa lapar, misal menonton film kartun, bermain musik, membaca buku, main game dan lain-lain
  9. skitar jam 13 anak-anak diupayakan untuk tidur siang. Biasanya jam 15-15.30 mereka akan terbangun dan lapar hehehehe…
  10. setelah sholat ashar, maka kita ajak mandi sore, biasanya setelah mandi, anak-anak lupa lagi sama laparnya.
  11. nah setelah lewat jam 16.00 ajaklah anak-anak ngabuburit, bantu-bantu di dapur, libatkan masak dan menyiapkan makanan buka puasa. Disini anak-anak biasanya lucu nih.. ada ajaaa kalimat-kalimat lucu yang dilontarkan,… misal duuuuuh lapeeernya miiih, sampe perut rasanya nempel sama punggung…qiqiqiq…
  12. setelah selesai menata meja, biasanya ada waktu 30 menit nih menjelang maghrib, ajak lagi mereka melupakan rasa lapar dan beri semangat serta pujian.
  13. Pada saat adzan maghrib tiba, ajak anak untuk membaca doa buka puasa dan berikan anak sup buah (airnya untuk diteguk seteguk saja), lalu tanyakan, “bagaimana rasanya nak?” disini biasanya saya menangis bahagia, lihat raut wajah anak-anak yang begitu menikmati buka puasanya walaupun dengan seteguk air dulu. masih terngiang di telinga aku mereka berkata “Mamiiiiih, alhamdulillah seger banget” aku bilang pada mereka “gimana, berpuasa itu enak ya, ada rasa yang tidak dapat diucapkan ya, makanan dan minuman jadi luar biasa rasanya?” anak-anak mengangguk. Besok puasa lagi yaaaaaa… supaya bisa merasakan nikmat yang luar biasa… 🙂  🙂
  14. setelah merasakan sensasi pertama itu, saya biarkan anak-anak untuk menyantap makanan satu persatu. biasanya urutannya minum yang seger-seger, trus makan nasi, sholat, makan kokokrunch lagi, dan menjelang isya makan apapun yang ingin mereka makan. kadang pop mie, bubur ayam, atau chicken soup cream, roti dll
  15. anak-anak sholat tarawih di masjid bersama kakeknya atau ayahnya.
  16. setelah tarawih anak-anak biasanya saya tanya, besok puasa lagi yaaaaa… dan mereka menjawab… iya maaaaa,,, besok sahur masakan ini/itu yaaaaa.

Alhamdulillah, selama ini, saya mengimplemetasikan ini kepada anak-anak, dan it works.  Satu lagi yang membuat mereka bersemangat, hadiah lebaran berupa rupiah sebesar 150rb/anak bila tamat berpuasa (Rp.5000×30).  🙂    🙂   🙂

o iya, kerewelan lucu anak-anak yang saya alami :

  1. mamiiiii, aku mau mati ini saking laparnyaaaa…
  2. mamiiiii, perutku tipis kelaparan sampe mau nempel sama punggung…
  3. mamiiiii, tolong akuuuuuu
  4. mamiii, aku sudah tidak kuat lagiiiiiih

kalo sudah kayak gini, ya ditega-tegain aja…. (padahal kasihan sih, tapi demi mendidik anak untuk sabar ya gimana lagi… ditega-tegain)

biasanya aku peluk mereka, kubilang sayang loh kalo buka sekarang… sedikit lagi hanya tinggal 3 jam loooh, yuk kita ngapain… supaya lupa laparnya. ya cukup lama siiiiih ngerayu rayu mereka… tapi alhamdulillah…. mereka berhasil mengalahkan cengengnya sendiri…qiqiqiqi…

Di saat puasa ini pula, biasanya anak-anak aku suruh buat parcel sendiri dan diberikan kepada anak-anak yatim piatu, mengajarkan bersedekah, berbagi bersama dan membantu sesama. Ini semua kami lakukan melalui sekolah madrasahnya (mengaji) di sore hari.

Saat menulis ini, Azka telah mengalami batal puasa karena masa pubernya telah hadir sehingga tidak tamat lagi puasanya,veyzha sudah 4x tamat puasa dan menjelang tamat puasa ke 5xnya, dan Quintza menjelang tamat puasa untuk ke 2xnya. Alhamdulillahirobbil alamiin, semoga anak-anak tetap istiqomah menjalankan puasa sampai dewasa dan tua nanti. Aamiin Ya Robbal Alamiin.

Screen Shot 2016-06-02 at 06.08.54

Semoga ini bisa menjadi inspirasi yang membacanya. Aamiin.